"Dia masih menahan diri…" batin Lynx, saat melihat sorot mata lawannya.

Orang misterius itu akhirnya mundur, napasnya berat. Matanya menyipit, memperhatikan Lynx dengan penuh kebencian. "Kau memang sehebat yang aku dengar," katanya. "Kau bahkan tidak menunjukkan semua yang kau miliki."

Lynx kaget mendengarnya."Darimana kamu tahu tentangku?" lalu dia tersenyum kecil, sambil mengangkat bahunya. "Aku hanya menyesuaikan diri. Kau ingin aku serius?"

"Kita lihat apakah kau masih bisa tersenyum setelah ini." Orang misterius itu mencabut sebuah kapak besar dari punggungnya. Bilahnya kasar namun tajam, dengan bekas-bekas darah kering yang menghitam di permukaannya. Ia memutar senjata itu di tangannya dengan mudah, menunjukkan keahliannya.

"Kau yakin tidak mau mengambil senjata?" tanyanya, suaranya rendah namun penuh ejekan.

Lynx berdiri tegak, kedua tangannya menggantung santai di sisi tubuhnya. "Aku rasa aku tidak perlu. Kau bebas menggunakan senjata kalau itu membuatmu lebih percaya diri."

Sorakan kecil terdengar dari penonton. Beberapa penonton suku Raksa mulai tertawa pelan.

"Dia hanya bercanda, kan?" tanya seseorang.

"Dia pasti gila," bisik yang lain.

Banu, yang masih memegangi lengannya dari cedera sebelumnya, menyeringai kecil. "Ini yang aku tunggu-tunggu. Akhirnya dia akan mendapatkan balasannya."

Arkha hanya menatap tajam ke arena, diam namun fokus. Rira terlihat gelisah, sementara Kanha berteriak keras dari pinggir. "Hajar dia, Kak Lynx! Dia cuma kelihatan garang, tapi nggak punya otak!"

Orang misterius itu melesat maju dengan kapaknya, memutar senjata itu dalam serangan melingkar yang mematikan. Udara di sekitar bilah kapak terasa berdesing, seolah-olah mampu membelah apa saja yang dilaluinya.

Namun, Lynx hanya melangkah mundur dengan kecepatan luar biasa, membuat serangan itu meleset tipis. Orang misterius itu terus menyerang, mengayunkan kapaknya dengan tenaga penuh, setiap serangan menghantam tanah atau menciptakan angin yang kuat.

Lynx tetap menghindar dengan gerakan minimal, seolah-olah serangan itu tidak lebih dari latihan. Ia bahkan sesekali mengangkat tangannya, menghalau angin dari kapak dengan sikap santai.

"Berhenti bergerak!" bentak orang misterius itu, frustasi. Ia mengubah pola serangannya, mencoba menjebak Lynx dengan ayunan kapak dari sudut-sudut tak terduga.

Namun, Lynx membaca semua gerakan itu dengan mudah. Ketika sebuah serangan mendekat, ia melompat ke atas, melompati kapak yang mengarah ke kakinya. Ketika serangan berikutnya datang dari samping, ia berjongkok dan berguling keluar dari jangkauan.

"Ayo, serius sedikit," kata Lynx sambil tersenyum kecil. "Aku mulai bosan."

Penonton semakin ramai.

"Dia bermain-main dengannya!" seru seseorang.

"Tidak mungkin dia bisa menghindari semua itu tanpa terluka!"

Orang misterius itu semakin marah. Ia mengubah tekniknya, memutar kapak di tangannya sebelum melemparkannya langsung ke arah Lynx dengan kekuatan penuh.

Kapak itu melesat dengan kecepatan tinggi, hampir tidak terlihat oleh mata biasa. Tapi Lynx menangkapnya dengan satu tangan, memutar bilah itu di tangannya sebelum melemparkannya ke tanah.

"Kapak yang bagus," katanya dengan nada santai. "Tapi kau lebih baik kalau menggunakan tangan kosong."

Orang misterius itu melompat maju, menggunakan momentum tubuhnya untuk menyerang Lynx dengan tinju kosong. Serangan itu kuat, menghantam dengan kekuatan yang cukup untuk mematahkan tulang.

Namun, Lynx menangkap tinju itu di tangannya. Ia berdiri diam di tempatnya, menahan serangan itu tanpa bergeming.

Mata orang misterius itu membelalak. "Apa—"

Lynx tersenyum tipis, lalu melemparkan lawannya ke belakang dengan satu gerakan, membuat pria itu terguling beberapa meter sebelum bangkit dengan gemetar.

Penonton terdiam sejenak, lalu terdengar gemuruh suara kagum.

"Dia tidak pakai senjata dan tetap menang!"

"Siapa sebenarnya dia?"

Arkha memperhatikan Lynx dengan ekspresi serius dan kagum. "Dia masih menahan diri hingga saat ini," gumamnya.

Rira menatap Lynx dengan campuran kekaguman dan kekhawatiran. "Dia lebih dari yang aku kira, Lynx sangat luar biasa" bisiknya.

"Kak Lynx, sangat hebat. Dia jagoanku." Kata Kanha sambil bertepuk tangan dan melompat-lompat dengan gembira.

Sementara Banu, wajahnya semakin merah karena menahan marah,"Lihat saja Lynx, kamu pasti akan berlutut di kakiku,"

"Banu, sepertinya Lynx bukan orang yang bisa kita lawan begitu saja, kekuatannya sangat menakutkan." Kata salah satu orang disampingnya.

"Diam kamu! Aku akan tetap membuatnya hancur." Kata Banu dengan marah.

Orang misterius itu berdiri dengan susah payah, napasnya berat. Matanya menyala dengan kemarahan dan kekesalan. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil dari balik pakaiannya, menuangkan cairan merah tua ke dalam mulutnya.

"Aku akan menunjukkan padamu… kekuatan sebenarnya," katanya dengan suara yang kini terdengar lebih garang.

Lynx memperhatikan dengan tenang, tangannya masih menggantung santai di sisinya. "Kalau itu yang kau inginkan," katanya pelan, "aku akan menunggu."

"Apa yang dia lakukan?" Tanya salah satu penonton.

"Bukankah itu ramuan penambah kekuatan seperti yang Banu minum sebelumnya?" Kata penonton lainnya yang semakin tegang menyaksikan.

Setelah menelan cairan merah tua itu, tubuh orang misterius mulai berubah secara perlahan namun jelas. Otot-ototnya tampak mengembang, kulitnya berubah menjadi merah kehitaman, seolah-olah darah mengalir tepat di bawah permukaannya. Urat-urat besar mencuat di seluruh tubuhnya, berdenyut dengan intensitas yang menakutkan. Matanya memancarkan cahaya merah, penuh kebencian dan kekuatan yang tidak wajar.

Penonton menatap dengan campuran kagum dan ngeri.

"Apa yang terjadi, bukankah ramuan penambah kekuatan tidak seperti itu efeknya?" salah seorang penonton bertanya.

"Apa yang dia lakukan pada dirinya sendiri?" tanya salah seorang dari suku Raksa.

"Itu cairan terkutuk!" seru seorang tetua. "Aku pernah mendengar cerita tentang racun itu. Itu bisa membuat orang menjadi monster! tapi ramuan itu tidak ada seorangpun dari suku kita yang mampu membuatnya."

Kanha, yang berdiri di samping Rira, tampak panik. "Apa itu aman? Bagaimana kalau dia benar-benar jadi monster?"

Rira menggigit bibirnya, tidak tahu harus menjawab apa. Sementara itu, Banu, yang sebelumnya terluka, mulai tertawa kecil. "Aku tahu dia menyimpan sesuatu. Dengan ini, Lynx tidak akan punya kesempatan."

Arkha mengerutkan dahi, matanya tajam memandang orang misterius itu. "Dia mempertaruhkan nyawanya untuk menang. Tapi itu mungkin cukup untuk melawan orang seperti Lynx."

Orang misterius itu menatap Lynx dengan tatapan mematikan, lalu melangkah maju dengan kecepatan yang luar biasa, lebih cepat daripada sebelumnya. Dalam sekejap, ia berada di depan Lynx dan melancarkan pukulan kuat yang memecah udara.

BRUGH!

Lynx menghindar dengan gerakan sehalus tarian, membuat pukulan itu menghantam tanah, menciptakan retakan besar. Debu beterbangan, membuat penonton menutup mata mereka sejenak.

"Dia bahkan lebih kuat sekarang," gumam Lynx sambil melangkah mundur.

Namun, lawannya tidak memberikan jeda. Orang misterius itu menyerang lagi, kali ini dengan serangan bertubi-tubi, setiap pukulan penuh dengan kekuatan brutal. Lynx terus menghindar dengan gerakan ringan, membiarkan serangan itu menghantam udara kosong.

"Berhenti menghindar!" teriak orang misterius itu, suaranya menggema dengan nada mengerikan.

"Aku tidak terbiasa ditangkap," jawab Lynx dengan nada santai, memancing lebih banyak kemarahan.

Orang misterius itu berjongkok rendah sebelum melompat tinggi, tubuhnya melayang di udara dengan kapaknya yang tiba-tiba muncul kembali di tangannya. Ia mengayunkan kapak itu ke arah Lynx dengan kekuatan yang cukup untuk memotong pohon besar menjadi dua.

Lynx melompat ke belakang dengan kecepatan luar biasa, membuat kapak itu menghantam tanah dan menciptakan lubang besar. Penonton mulai berbisik cemas.

"Bagaimana dia bisa bertahan melawan itu?"

"Dia tidak bisa terus menghindar selamanya!"

Di sisi arena, Kanha melompat-lompat sambil menggoyangkan tangannya ke arah Lynx. "Ayo, Kak Lynx! Beri dia pelajaran! Jangan biarkan dia sombong!"

Namun, Narendra yang masih memegangi perutnya karena luka sebelumnya, memperhatikan dengan serius. "Lynx belum menunjukkan kekuatannya," gumamnya.

Rira mengangguk, matanya tidak pernah lepas dari Lynx. "Dia mengamati. Dia belum serius."

Orang misterius itu menghentak ke tanah, menciptakan gelombang debu yang menyebar ke seluruh arena. Lynx tetap tenang, berdiri di tempatnya sambil menunggu serangan berikutnya.

"Apa yang kau lakukan, hah?!" bentak orang misterius itu. "Melawan aku seperti seorang pria!"

Lynx hanya menggeleng pelan. "Kau terlalu percaya diri. Aku memberimu kesempatan untuk menyerah."

"Menyerah?! Kau pikir aku akan menyerah pada orang sepertimu?"

Orang misterius itu melancarkan serangan lain, kali ini lebih cepat dan lebih liar. Tapi setiap serangan hanya bertemu dengan udara kosong. Lynx terus bergerak dengan presisi, seperti bayangan yang tidak pernah tersentuh.

Ketika orang misterius itu mencoba menyerang dari samping, Lynx akhirnya melangkah maju dan menangkap pergelangan tangannya. Dengan satu gerakan cepat, ia memutar tubuh orang misterius itu dan melemparkannya ke tanah dengan suara keras.

Penonton terdiam.

"Tidak mungkin!" seru seseorang.

"Kekuatannya terlalu besar!" tambah yang lain.

Lynx berdiri tegak di atas tubuh orang misterius itu, menatapnya dengan ekspresi tenang namun penuh kewaspadaan. "Aku sudah bilang, menyerahlah. Kau sudah melampaui batasmu."

Namun, orang misterius itu hanya tertawa pelan, meskipun darah mulai mengalir dari sudut bibirnya. Ia menyeringai, menunjukkan giginya yang sekarang terlihat lebih tajam. "Aku belum selesai."

Sebelum Lynx bisa bereaksi, pria itu meraih sebuah botol kecil lain dari pinggangnya. Cairan itu berwarna hitam pekat, hampir seperti darah. Ia membuka tutupnya dengan giginya, lalu menenggaknya tanpa ragu.

"Apa yang dia lakukan sekarang?" tanya Rira, suaranya penuh kecemasan.

Narendra menggeleng pelan, wajahnya tegang. "Ini tidak akan baik."

Tubuh orang misterius itu mulai bergetar hebat. Kulitnya yang sudah gelap kini berubah menjadi lebih kasar, seperti sisik, dan otot-ototnya kembali mengembang hingga tampak tidak wajar. Suara rendah dan menggeram keluar dari tenggorokannya, seperti hewan buas yang baru saja bangkit dari tidur panjangnya.

Lynx memundurkan kakinya sedikit, bersiap untuk perubahan situasi. "Kau benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti, ya?" katanya pelan.

Orang misterius itu menatap Lynx dengan mata yang kini bersinar merah terang. "Sekarang... kau akan tahu apa itu ketakutan."

Orang misterius itu berdiri perlahan, tubuhnya kini tampak jauh lebih besar daripada sebelumnya. Setiap gerakannya menghasilkan suara retakan, seolah-olah tulang-tulangnya sedang beradaptasi dengan bentuk barunya. Kulitnya yang bersisik memantulkan cahaya matahari, dan otot-ototnya bergerak seperti ular yang melilit dirinya sendiri.

"Dia bermutasi..." gumam seorang penonton, suara mereka dipenuhi ketakutan.

"Tidak mungkin seseorang bisa selamat dari perubahan seperti itu!" seru yang lain.

"Siapa orang itu, kenapa bisa punya ramuan menakutkan seperti itu?"

Arkha mengatupkan rahangnya, matanya tajam memandangi pertarungan di depan. "Lynx… ini mungkin lebih buruk daripada lawan sebelumnya."

Rira menggenggam erat tangannya, menatap Lynx dengan penuh kecemasan. "Dia pasti bisa melawan ini, kan? Kanha, bilang padaku dia bisa."

Kanha, yang biasanya penuh semangat, kini tampak serius. Tapi ia tetap mengangguk tegas. "Kak Lynx itu seperti batu. Dia kuat. Orang itu cuma kelihatan menyeramkan."


